ARTIKEL DI DEPRISMA

MEMILIH METODE MENGAJAR

“ Modern teaching is no longer just chalk  and talk “ (Metode pengajaran modern tidak lagi hanya sekedar kapur dan berbicara saja). Demikian ungkapan seorang penggagas metode pengajaran modern. Pendapat ini sangat berkebalikan dengan metode pengajaran kuno yang didomnasi dengan ceramah, pemberian contoh-contoh dan menjawab pertanyaan (Teacher centered).

Berbicara tentang metode pengajaran, maka  yang dimaksudkan adalah  jawaban atas  pertanyaan  : “ Apa tujuan  sebuah pendidikan atau pengajaran yang hendak dicapai ? “  dan  “ Apa cara yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut ? “. Jawaban dari kedua pertanyaan ini haruslah menjadi concern bagi setiap dosen dalam memilih metode dan tekhnik dalam proses penyampaian bahan kuliah kepada mahasiswa. Setiap dosen tentunya telah membuat SAP sebagai pedoman pengajaran, sehingga dengan membaca TIU dan TIK dalam SAP tersebut  dia dengan cerdas dapat menentukan metode apa yang paling efektif untuk diterapkan.

Saat ini masih banyak dijumpai  dosen yang gemar menerapkan metode pengajaran ‘kuno’, mereka enggan beralih ke metode-metode pengajaran baru dan modern yang kreatif, inovatif dan memotivasi. Hal ini kadang-kadang dapat dmenegerti bahwa metode pengajaran modern membutuhkan alat atau media pengajaran yang canggih, oleh  karena itu tidak semua dosen mampu untuk beradaptasi dengan metode baru tersebut.

Dengan latar belakang pendidikan yang mereka telah lalui dan fasilitas pembelajaran yang  tersedia,  sudah seharusnya semua dosen khususnya  di DCC Bandar Lampung dapat menerapkan metode atau system pengajaran yang baru dan modern. Sebagai perguruan tinggi bidang IT, sudah sewajarnya pula semua dosen dapat memanfaatkan   tekhnologi ini seluas-luasnya guna tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal.

Sejak beberapa tahun yang lalu AMIK dan ABA DCC Bandar Lampung telah merintis penerapan system atau metode pembelajaran dengan memanfaatkan  teknologi informasi yang dikenal dengan E-learning. Berbagai infrastruktur telah dibangun antara lain ; ruang kelas multimedia,  (selain full AC, ruang kelas telah dilengkapi dengan LCD proyektor, audio system, PC yang  terhubung dengan internet melalui jaringan tanpa kabel, dan alat pendukung lainnya), server , dan jaringan internet (hot spot area), serta software penunjang pembelajaran yang integrated dan interaktif. Selain penyediaan infrastruktur, tentunya telah dilaksanakan berbagai pelatihan bagi dosen dan tenaga teknisi dengan harapan agar system ini dapat dengan tepat diterapkan sehingga pencapaian proses pembelajaran atau perkuliahan akan optimal. Selain dosen, mahasiswa tentuya juga dituntut  familiar dengan E-learning, Karena mereka juga sekaligus sebagai pengguna dari system ini. Bila diperlukan, mahasiswa terlebih dahulu harus diberikan tutorial dan training yang memadai agar mereka terbiasa dan mahir sehingga proses perkuliahan akan berjalan dengan lancar.

Banyak sekali keuntungan yang diperoleh dengan penerapan metode pengajaran dengan  E-learning ini, antara lain :

1. Paperless, proses pembelajaran dengan E-learning hampir tidak menggunakan kertas. Sumber pelajaran (resources) telah tersedia  dalam bentuk soft copy yang tersimpan pada server, komputer dosen atau pada komputer mahasiswa.

2. Kaya akan sumber pelajaran (abundant of resources), guna memperkaya sumber bahan perkuliahan atau referensi baik dosen atau mahasiswa dapat dengan mudah mendapatkannya pada laman-laman sejenis. Mahasiswa dapat mengulangi sendiri proses perkuliahan yang telah direkam dan tersimpan pada system dalam bentuk video. Apabila telah terjalin kerjasama dengan perguruan tinggi lain dengan system yang sama, maka mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan melalui alive video streaming atau dalam bentuk rekaman/file.

3. Efektif dan efisien, pertemuan tatap muka dengan dosen dapat digunakan sepenuhnya untuk berdiskusi dan berbagi atau pemecahan masalah (problem solving). Tidak ada waktu untuk menuliskan materi perkuliahan pada papan tulis atau mahasiswa menyalin bahan perkuliahan dari papan tulis. Tugas-tugas dapat dikerjakan atau dikumpulkan dalam bentuk softcopy dan dikirimkan kepada dosen melalui E-mail, newsgroup, facebook, website interaktif  dan software E-learning yang integrated. Demikian juga sebaliknya dosen dapat mengirim tugas atau bahan perkuliahan langsung ke mahasiswa melalui internet (e-mail, newsgroup, facebook, web atau system).

4. Menarik dan tidak membosankan, bahan perkuliahan dapat ditampilkan dalam bentuk multimedia, animasi, simulasi dan demonstrasi. Banyak sekali software yang dapat digunakan untuk membuat penyajian yang menarik, seperti : power point, Adobe reader/maker, windows movie maker, swish max, 3D Max, dan lain-lain.

5. Double effect, selain sebagai alat atau media belajar, implementasi E-learning juga membantu mahasiswa agar senantiasa menggunakan komputer terus-menerus, dengan demikian mereka akan semakin mahir menggunakan komputer dengan berbagai software.

6. Bahan pelajaran dapat digunakan berulang-ulang, sekali dosen memproduksi bahan pelajaran, maka ia dapat menggunakannya terus-menerus. Revisi hanya dibutuhkan untuk pengayaan materi, perbaikan penampilan, dan dinamisasi aktifitas mahasiswa pada saat perkuliahan dalam kelas.

Idealnya sebuah proses pembelajaran yang menerapkan system E-learning membutuhkan antara lain :

1. Ruang kelas multimedia (LCD Proyektor, smart whiteboard, sound system, dan sambungan internet/LAN), nyaman dan menggunakan pendingin ruangan (AC).

2. Jaringan internet yang reliable (handal) dengan bandwith memadai sehingga dapat digunakan bersama-sama tanpa gangguan kecepatan pengiriman data.

3. Server yang dapat menampung seluruh bahan ajar, tugas-tugas mahasiswa, mudah diakses, dan terkoneksi dengan jaringan global maupun local area network (LAN).

4. Public computer atau personal laptop, setiap mahasiswa dipastikan dapat mengakses semua bahan perkuliahan baik melalui  komputer yang disediakan dikampus atau idealnya mereka memiliki laptop sendiri-sendiri.

5. Software (System E-learning) yang integrated dan interaktif, software E-learning berupa sebuah system dengan menu-menu yang berisi mulai dari nama mata kuliah, SAP, materi pembelajaran, bahan evaluasi, feedback, dan lain sebagainya, yaitu berupa sebuah program yang menampilkan menu-menu kebutuhan suatu proses perkuliahan/pembelajaran.

E-learning sudah seharusnya diterapkan di AMIK dan ABA DCC Bandar Lampung, karena hampir semua faktor pendukungnya telah tersedia. Kendala terbesar yang dihadapi dalam penerepan E-learning ni adalah kesiapan para dosen, karena tidak semua dosen berlatar belakang IT, sebagian dosen mempunyai akses internet terbatas, belum semua dosen mau bekerja keras untuk menerapkan system ini, karena belum berhubungan langung dengan insentif atau priviliege, dan tidak semua dosen dengan lapang dada beralih ke metode baru ini, karena mereka  masih nyaman dengan metode yang lama. Namun sesuai dengan kebijakan lembaga,  pada tahun-tahun mendatang penerapan system E-learning terus ditingkatkan hingga mencapai seratus persen pada tahun 2011. (Semoga, Amin).

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.